Terekam ada sebuah janji besar yang pernah diberikan internet kepada kita. Bahwa siapa pun kini bisa berbicara. Bahwa kekuasaan tidak lagi memonopoli narasi. Bahwa ruang publik akhirnya menjadi benar-benar publik. Janji itu tidak sepenuhnya bohong. Tapi sudah dua dekade berlalu, dan kita perlu jujur menilai hasilnya.

Yang kita miliki sekarang adalah sebuah ekosistem di mana setiap orang memang bisa berbicara, namun hampir tidak ada yang benar-benar mendengarkan. Diskusi berlangsung sepanjang hari, perdebatan tak pernah selesai, dan pada akhir setiap malam, tidak satu pun pihak yang berubah pikiran. Demokrasi digital ternyata bukan tentang pertukaran gagasan. Ia tentang pertukaran amunisi.

Masalahnya tidak sepenuhnya lahir dari pengguna. Sebagian besar lahir dari cara platform ini dirancang. Algoritma media sosial tidak dibangun untuk mendorong pemahaman. Ia dibangun untuk mempertahankan perhatian. Dan perhatian manusia, seperti yang sudah lama diketahui oleh industri hiburan, paling mudah ditahan oleh kemarahan, ketakutan, dan rasa terancam.

Hasilnya bisa diprediksi. Konten yang memancing emosi jauh lebih mudah menyebar dibanding penjelasan yang bernuansa. Orang yang berbicara dengan hati-hati kalah oleh mereka yang paling keras berteriak. Sensasi mengalahkan substansi, bukan karena masyarakat bodoh, melainkan karena sistem memang dirancang untuk menghadiahi sensasi.

Dari sini lahirlah apa yang kini kita kenal sebagai polarisasi. Bukan polarisasi dalam arti masyarakat memiliki pendapat yang berbeda, itu wajar dan sehat dalam demokrasi mana pun. Polarisasi dalam arti lawan bicara tidak lagi dipandang sebagai sesama warga negara dengan sudut pandang berbeda, melainkan sebagai musuh yang eksistensinya mengancam. Kompromi menjadi tanda kelemahan. Keraguan menjadi pengkhianatan.

Algoritma memperparah ini dengan terus menyajikan konten yang selaras dengan keyakinan pengguna. Lama kelamaan, seseorang hanya melihat dunia melalui cermin, bukan melalui jendela. Apa yang ia yakini tampak seperti kebenaran universal karena seluruh lingkaran digitalnya meyakini hal yang sama. Fenomena ini bukan kelemahan desain. Dalam banyak hal, ia adalah fitur.

Yang juga perlu dicermati adalah bagaimana media sosial mengubah hubungan kita dengan waktu berpikir. Platform ini menuntut reaksi cepat. Informasi dikemas dalam potongan video pendek, judul provokatif, dan narasi yang sudah punya kesimpulan sejak awal. Tidak ada ruang untuk ragu, untuk membaca lebih jauh, atau untuk berkata: saya belum cukup tahu.

Persoalan-persoalan publik yang sesungguhnya kompleks dipaksa menjadi pilihan biner. Kamu di sisi mana? Tidak ada opsi ketiga. Tidak ada ruang untuk menjawab: tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Kesabaran intelektual menjadi sesuatu yang dianggap tidak tegas, bukan sebagai kematangan berpikir.

Di Indonesia, pola ini terlihat berulang pada hampir setiap momentum politik besar. Pemilu, isu agama, kebijakan pemerintah, semuanya melewati mesin yang sama dan keluar dalam bentuk yang sama: dua kubu yang saling melempar tuduhan, sementara mereka yang mencoba membaca situasi secara lebih hati-hati dibungkam oleh kebisingan kolektif. Yang paling keras berbicara tidak selalu yang paling benar. Tapi dalam ekosistem ini, kerasnya suara yang menentukan siapa yang didengar.

Ini adalah masalah yang lebih dalam dari sekadar hoaks atau ujaran kebencian. Demokrasi membutuhkan kapasitas untuk berdialog, untuk mengubah pikiran berdasarkan argumen yang lebih baik, dan untuk menerima bahwa kebenaran kadang berada di tengah, bukan di salah satu ujung. Ketika kapasitas itu terkikis, yang tersisa adalah demokrasi prosedural tanpa substansinya. Pemilihan tetap berlangsung, tapi deliberasi sudah mati.

Literasi digital sering disebut sebagai jawabannya. Dan memang benar bahwa kemampuan membedakan informasi dari propaganda, kritik dari kebencian, adalah keterampilan yang semakin tidak bisa diabaikan. Tapi literasi digital tidak bisa bekerja sendiri jika platformnya sendiri terus menghadiahi perilaku yang berlawanan dengan semua itu.

Kita tidak bisa meminta masyarakat berenang melawan arus sambil terus mempercepat alirannya.

Janji awal media sosial adalah memperluas partisipasi publik. Dalam satu pengertian, janji itu terpenuhi. Lebih banyak orang berbicara hari ini dibanding kapan pun dalam sejarah. Yang tidak pernah dijanjikan adalah bahwa lebih banyak suara berarti lebih baik kualitas percakapannya.

Dan mungkin di situlah letak kesalahan kita sejak awal: mengira bahwa akses yang lebih luas otomatis menghasilkan demokrasi yang lebih sehat. Padahal alat tidak menentukan kualitas. Penggunanyalah yang menentukan. Dan penggunanya sedang dibentuk oleh alat yang sama.